Barcelona berhasil menghajar Real Madrid dengan score telak, 3-0. Dua melalui tiga gol hasil positif Blaugrana dibuat oleh Luis Suarez. Bersama hasil itu, Barcelona menuju ke babak laga pamungkas Copa del Rey bersama agregat 4-1 atas Madrid.

Babak perdana Madrid melawan Barcelona berlangsung sengit. Kedua tim bermain menyerang serta saling memberikan tekanan. Juru tak-tik Madrid, Santiago Solari memainkan Keylor Navas pada posisi kiper dan menepikan Thibaut Courtois.

Gareth Bale, calon superstar yang tidak berhasil juga ditepikan oleh Solari dan setingkat lebih mengambil keputusan memasang Lucas Vazquez. Di sektor sentral, komposisi pemain tidak banyak bertransformasi dengan Luka Modric, Casemiro, juga Toni Kroos.

Sedangkan tim tamu, Barcelona menurunkan seluruh bintang terbaiknya. Ernesto Valverde menurunkan Nelson Semedo di tempat bek sebelah kanan dengan mendorong Sergi Roberto ke sektor tengah. Arturo Vidal serta penggawa anyar Blaugrana, Kevin Prince Boateng belum berlaga di babak pertama.

Kesempatan paling mematikan kedua tim lahir pada akhir fase pertama. Yaitu saat Karim Benzema yang melepaskan tembakan dengan kaki kiri menggunakan operan Vinicius Junior saat laga sudah berjalan hingga menit ke-37. Mujur posisi Marc-Andre ter Stegen masih ideal dan dapat menangkis bola ke luar. Hingga sang pengadil Jose Sanchez meniup peluit, skor 0-0 masih tinggal hingga fase pertama sehabis.

Babak ke 2 pertandingan Madrid melawan Barcelona dimulai dengan goal Luis Suarez. Yakni saat laga sudah berjalan hingga menit ke-50 yang memanfaatkan assist Dembele.

Saat laga sudah berjalan hingga menit ke-69, Blaugrana menggandakan keunggulan melalui own goal Raphael Varane. Dembele kembali menjadi aktor dari goal kedua Blaugrana. Umpan silang mendatarnya disambar dengan ciamik oleh Varane yang celakanya masuk ke gawang Navas.

Suarez mencetak dua gol ‘dua gol’ setelah eksekusi penalti saat laga sudah berjalan hingga menit ke-72 tidak berhasil dihalau Navas. Tendangan penalti ala Panenka sepertinya mengubur mimpi Real Madrid mencatatkan Treble Winners kampanye musim ini.

Legenda Arsenal, Martin Keown, menganggap kondisi Mesut Ozil di Emirates Stadium amat memalukan. Pasalnya, selaku bintang dengan bayaran paling tinggi, Ozil justru tidak bisa berlaga di skuat kunci.

“Situasi Ozil memalukan. Kita tak paham apa ia betul-betul cedera ataupun tidak. Aku tengah berpikir ia memiliki sesuatu buat ditawarkan. Namun pesepakbola seharusnya bertanya pada ia sendiri di mana ia mau berlaga sepak bola? ” tutur Keown pada Soccerway.

“Jika ia angkat kaki menuju posisi lainnya, upahnya amat besar, hingga Arsenal seharusnya turut membayarnya. Rasanya keputusan yang dibikin setahun yang lalu (perpanjang kesepakatan kontrak Ozil) terbukti merupakan keputusan yang salah, ” lanjutnya.

Ozil memang pesepakbola dengan bayaran paling tinggi di Arsenal, serta nomor 2 di Liga Premier Inggris. Dia memperoleh pemasukan 350 ribu Pounds per minggu. Namun, bekas pemain Real Madrid ini tidak pernah berlaga di dalam 3 laga terbaru.

Seperti dilansir Keown, aneh apabila pemain dengan bayaran paling tinggi di Arsenal, malah tidak berhasil berlaga di skuat kunci.

“Apakah Ozil cedera? Apa ia cedera? Selaku pemain Kamu seharusnya ada buat seleksi serta Kamu mau memberi konsistensi. Ozil tidak bisa memberi satu dari sekian banyak dari itu. Ia seharusnya mulai kerja buat balik lagi ke klub. Inilah yang diajukan pelatih, inilah yang seharusnya ia kerjakan, ” tutur Keown.

Punggawa Tim nasional Jerman, Thomas Mueller, menyatakan jika musim 2018 adalah yang paling buruk di dalam kariernya di tingkat internasional. Malahan, dia mengumpamakan musim 2018 seperti satu film horor.

Lelaki 29 tahun tersebut masih yakin menatap musim 2019 bareng Die Mannschaft. Dia juga berharap Jerman bakal kembali jadi kesebelasan yang disegani di tahun 2019 nanti.

“Tahun 2018 adalah yang terburuk untuk aku pribadi pada tingkat internasional. 1 tahun belakangan, kami seperti bertanding di dalam satu film horor. Tapi, aku percaya penampilan negatif kami bakal cepat terhenti,” kata Mueller dilansir melalui website resmi Federasi Sepakbola Jerman (DFB).

“Di musim 2019 mendatang, aku tentu berharap kami bakal balik lagi menuju performa puncak. Mungkin kami belum bakal jadi kesebelasan yang disegani. Namun, kami sudah memperlihatkan adanya perkembangan performa jelang penghujung musim 2018 ini, walau bersama tim yang sedikit lain,” lanjutnya menambahkan.

Di pertandingan kontra Belanda, hari Selasa (20/11), Mueller sukses mendapat caps yang ke-100 bareng Tim nasional Jerman. Tapi, dia tidak berpikir senang sebab tidak berhasil menaklukkan Belanda serta cuma berlaga seri walau sempat punya keunggulan 2 goal.

“Saya tentu berpikir amat girang sebab sukses mencetak performa ke-100 bareng Tim nasional. Namun, aku berpikir tidak begitu senang sebab kami cuma bermain seri menghadapi Belanda. Dalam laga menghadapi Belanda, aku tak bertanding untuk mendapat penampilan yang ke-100. Aku main buat mendapat kemenangan.”

Pemain berposisi gelandang Arsenal, Mesut Ozil, mempertahankan pamor menjadi pesepak bola Jerman tersubur sepanjang sejarah Premier League. Mesut Ozil melewati catatan bintang tertajam dari Jerman pada Premier League melalui pertandingan Arsenal melawan Leicester City pada Stadion Emirates, Senin (22/10) ataupun Selasa malam WIB.

Di dalam pertandingan lanjutan Liga Inggris minggu kesembilan ini, Arsenal unggul bersama score 3-1. Pernah terpaut karena bunuh diri Hector Bellerin (31′), Arsenal membalas bersama gelontoran goal melalui Mesut Ozil (45′) serta dua gol Pierre-Emerick Aubameyang (63′, 66′).

Untuk Ozil, itu goal ke-30 miliknya bagi Arsenal semenjak berkiprah pada Liga Inggris di 2013. Total itu membikin Ozil mengakusisi catatan bintang tertajam dari Jerman pada Premier League yang pada awalnya diemban Juergen Klinsmann serta Uwe Roesler.

Dilansir BolaSport. com melalui daftar Opta, Klinsmann serta Roesler sama-sama memasukkan 29 goal pada Liga Inggris. Klinsmann membukukannya bareng Tottenham Hotspur (1994-1995, 1997-1998), sementara Roesler guna Manchester City (1994-1998). Berikut lis enam pesepak bola Jerman tersubur pada Premier League

Mesut Ozil (Arsenal: 30 gol)
Juergen Klinsmann (Tottenham Hotspur: 29)
Uwe Roesler (Manchester City: 29)
Robert Huth (Middlesbrough, Stoke City, Leicester: 19)
Lukas Podolski (Arsenal: 19)
Michael Ballack (Chelsea: 17)

Tempat Joachim Loew menjadi juru tak-tik tim nasional Jerman disebut tak aman lagi usai Die Nationalmannschaft menerima kekalahan telak 0-3 dari Belanda pada UEFA Nations League, Sabtu (13/10/2018).

Pencapaian itu makin mengonfirmasi jika tim nasional Jerman besutan Joachim Loew sesungguhnya tengah ada di dalam waktu begitu jeblok sepanjang musim 2018.

Di dalam sepuluh laga pada seluruh turnamen, tim nasional Jerman menerima kekalahan lima kali. Menjadi juara bertahan, tim Joachim Loew pun secara langsung tereliminasi pada penyisihan grup Piala Dunia 2018.

Menyaksikan hasil-hasil itu, Loew sesungguhnya terlihat layak untuk ditendang.

Namun, benarkah DFB (Federasi Sepakbola Jerman) bakal benar-benar mencopot sang manajer dari jabatannya menyusul sebelum itu tim nasional Jerman sebenarnya amat konsisten sepanjang diasuh Joachim Loew?

Pada Piala Dunia, tim nasional Jerman berakhir pada tempat ke 3 2010 serta menjadi jawara di 2014. Lantas pada Piala Eropa, prestasi Jerman bareng Loew merupakan laga pamungkas 2008 serta semi-final 2012 dan 2016.

Seperti dilansir Florian Plettenberg melalui wartawan Sport1 yang aktif mengikuti peningkatan Bayern Muenchen serta tim nasional Jerman, DFB takkan memecat Joachim Loew.

Menurut dilansir Bolasport. com melalui Bavariafootballworks, Plettenberg malahan mengabarkan tempat Loew bakalan masih terus aman sekalipun Jerman lagi-lagi mendapat pencapaian memalukan kala melawan Prancis di dalam lanjutan Grup satu Liga A UEFA Nations League, Selasa (16/10/2018).

Sebabnya: DFB tak punya plan B. Mereka tak paham siapa yang dapat dipercaya sebagai pengganti Joachim Loew.

DFB pun disebut tidak mau membuat kekacauan yang setingkat lebih fatal dengan menggantikan juru tak-tik pada saat-saat pelik seperti saat ini.

Laporan Florian Plettenberg diperkenankan menjadi ada benarnya apabila menyimak reaksi Orang nomor 1 di DFB, Reinhard Grindel, menyikapi hasil-hasil negatif yang diperoleh tim nasional Jerman.

“Sudah amat tentu untuk team saya jika prestasi pada Piala Dunia 2018 bakal menghantarkan hasil-hasil negatif di belakangnya. Kini makin vital untuk rombongan saya guna merapatkan barisan didalam mau pun luar lapangan menjadi satu kesebelasan, ” tutur Grindel.